Just another WordPress.com site

MAKALAH IKD 1


Nursing Advocacy, Pengambilan Keputusan Legal Etis, dan Metode Pemecahan Masalah

BAB I

Pendahuluan

A.     Latar Belakang

Sistem perawatan kesehatan berubah dengan cepat. Perawat jaman sekarang berhadapan dengan perawatan klien yang mengharapkan asuhan keperawatan yang berkualitas dan mengharapkan perawatan profesional sebagai penyedia perawatan kesehatan terdidik dengan baik.

Pelayanan keperawatan mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Salah satu faktor yang mendukung keyakinan diatas adalah kenyataan yang dapat dilihat di unit pelayanan kesehatan seperti di rumah sakit, di mana tenaga yang selama 24 jam harus berada di sisi pasien adalah tenaga perawatan. Namun sangat disayangkan bahwa pelayanan keperawatan pada saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan. Keadaan ini bukan saja disebabkan oleh terbatasnya jumlah tenaga keperawatan yang kita miliki, tetapi terutama dikarenakan oleh terbatasnya kemampuan profesional yang dimiliki oleh sebagian besar jenis tenaga ini.

Proses keperawatan merupakan suatu jawaban untuk pemecahan masalah dalam keperawatan, karena proses keperawatan merupakan metode ilmiah yang digunakan secara sistematis dan menggunakan konsep dan prinsip ilmiah yang digunakan secara sistematis dalam mencapai diagnosa masalah kesehatan pasien, merumuskan tujuan yang ingin dicapai, menentukan tindakan dan mengevaluasi mutu serta hasil asuhan keperawata.

Pendekatan sistem dapat didefinisikan untuk memandang sesuatu sebagai suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur, komponen-komponen, elemen-elemen atau unit-unit yang saling berhubungan, saling berinteraksi, saling tergantung dalam mencapai tujuan. Pendekatan sistem meliputi cara berpikir tentang fenomena secara keseluruhan, metode atau teknik dalam memecahkan masalah atau pengambilan keputusan (kesadaran adanya masalah karena berbagai faktor).

B.      Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan nursing advocacy?

2. Apakah yang dimaksud dengan pengambilan keputusan legal etis?

3. Bagaimanakah cara untuk memecahkan masalah?

C.     Tujuan

1. Mendeskripsikan tentang nursing advocacy.

2. Mendeskripsikan tentang pengambilan keputusan legal etis.

3. Mendeskripsikan tentang metode pemecahan masalah.

 

BAB II

Pembahasan

A.    Nursing Advocacy

Definisi perawat advokat proses dimana perawat secara objektif memberikan klien informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan dan mendukung klien apapun keputusan yang buat.

Perawat sebagai advokat yaitu sebagai penghubung antara klien-tim kesehatan lain dalam rangka pemenuhan kebutuhan klien. Membela kepentingan klien dan membantu klien,memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan tim kesehatan dengan pendeketan tradisional maupun profesional.

Definisi perawat advokat menurut beberapa ahli:

  1. Arti advokasi menurut ANA adalah melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun.
  2. FRY mendefinisikan advokasi sebagai dukungan  aktif terhadap setiaap hal yang memiliki penyebab atau dampak penting.
  3. GADOW menyatakan bahwa advokasi merupakan dasar falsafah dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri.

Tanggung jawab perawat secara umum mempunyai tanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan,meningkatkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan diri sebagai profesi.

Tanggung jawab perawat secara khusus adalah memberikan asuhan keperawatan kepada klien mencakup aspek bio-psiko-sosio-kultural-spiritual yang komprehensif dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya.

Peran perawat sebagai advokasi

Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai advocat (pembela klien) perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, hak-hak klien tersebut antara lain: hak atas informasi; pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit/sarana pelayanan kesehatan tempat klien menjalani perawatan. Hak mendapat informasi yang meliputi hal-hal berikut:

  1. penyakit yang dideritanya;
  2. tindakan medik apa yang hendak dilakukan;
  3. kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk mengatasinya;
  4. alternatif terapi lain beserta resikonya;
  5. prognosis penyakitnya;
  6. perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang dideritanya;
  7. hak atas pelayanan yang manusiawi, adil, dan jujur;
  8. hak untuk memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu sesuai dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi;
  9. hak menyetujui/ memberi izin persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh perawat/ tindakan medik sehubungan dengan penyakit yang dideritanya (informed consent);
  10. hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya;
  11. hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
  12. hak menjalankan ibadah sesuai agama/ kepercayaan yang mengganggu pasien lain;
  13. hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit;
  14. hak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya;
  15. hak menerima atau menolak bimbingan moral maupun spiritual;
  16. hak didampingi perawat keluarga pada saat diperiksa dokter;
  17. hak untuk memilih dokter, perawat atau rumah sakit dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau sarana pelayanan kesehatan;
  18. hak atas rahasia medic atau hak atas privacy dan kerahasian penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya;
  19. hak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut (second opion), terhadap penyakit yang dideritanya dengan sepengetahuan dokter yang menangani;

B. Pengambilan Keputusan Legal Etis

Membuat keputusan bukanlah hal yang mudah, tetapi merupakan suatu tantangan bagi seorang manajer. Dalam era global dan serba cepat ini, langkah untuk mengambil keputusan harus cepat dan tepat pula.

Definisi pengambilan keputusan

1.      Suatu tindakan pemilihan, dimana pimpinan menetukan suatu kesimpulan tentang apa yang harus dilakukan/ tidak dilakukan dalam suatu situasi tertentu.

2.      Merupakan pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi.

3.      Penyelesaian masalah,yaitu menghilangkan adanya ketidakseimbangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi.

Pengambilan keputusan adalah tugas terpenting dari semua tugas yang membentuk fungsi kepemimpinan manajerial. Sebelum mengambil suatu keputusan, diperlukan informasi-informasi pendukung, misalnya informasi mengenai:

  • laporan anggaran
  • laporan sensus pasien
  • catatan medis
  • catatan personil pegawai
  • laporan jumlah waktu sakit pegawai, dan
  • waktu libur

pengambilan keputusan adalah proses kognitif yang tidak tergesa-gesa. Suatu rangkaian tahapan yang dianalisis, diperlukan, dan dipadukan, hingga dihasilkanlah ketepatan serta ketelitian dalam menyelesaikan masalah.

Berdasarkan kebutuhan, jenis keputusan yang dipakai adalah:

  1. Keputusan strategis, keputusan yang dibuat oleh eksekutif tertinggi.
  2. Keputusan administratif, yaitu keputusan yang dibuat manajer tingkat menengah dalam menyelesaikan masalah yang tidak biasa dan mengembangkan teknik inovatif untuk perbaikan jalannya kelembagaan.
  3. Keputusan operasional, yaitu keputusan rutin yang mengatur peristiwa harian yang dibuat sesuai dengan aturan kelembagaan, dan peraturan-peraturan lainnya.

Berdasarkan situasi  yang mendorong dihasilkannya suatu keputusan , keputusan manajemen dibagi menjadi dua macam:

  1. Keputusan terprogram, yaitu keputusan yang diperlukan dalam situasi menghadapi masalah. Masalah yang biasa dan yang terstruktur memunculkan kebijakan dan keseimbangan dan peraturan untuk membimbing pemecahan peristiwa yang sama. Misalnya keputusan tentang cuti hamil.
  2. Keputusan yang tidak terprogram, yaitu keputusan kreatif yang tidak terstruktur dan bersifat baru, yang dibuat untuk menangani situasi tertentu. Misalnya keputusan yang berkaitan dengan pasien.

Berdasarkan proses pembuatan keputusan, keputusan manajemen juga dapat dibedakan menjadi dua model:

  1. Keputusan model normatif atau model ideal memerlukan proses sistematis dalam pemilihan satu alternative dan beberapa alternatif; perlu waktu yang cukup untuk mengenal dan menyukai pilihan yang ada.
  2. Keputusan model deskriptif (pendekatan, lebih pragmatis) berdasarkan pada pengamatan dalam membuat keputusan yang memuaskan ataupun yang terbaik.

Aspek kelompok dalam pengambilan keputusan

Ada perbedaan antara keputusan bersama kelompok dan keputusan kelompok. Dalam pengambilan keputusan bersama kelompok, kelompok sepenuhnya berpartisipasi dalam mengambil keputusan, kecuali dalam menetapkan keputusan akhir. Sedangkan dalam pengambilan keputusan kelompok, kelompok sepenuhnya ikut menentukan dalam pengambilan keputusan akhir.

Tipe Pengambilan Keputusan

  1. Pengambilan keputusan yang kurang tanggapan (metode yang kurang diperhatikan)
  2. Pengambilan keputusan dengan cara otomatis
  3. Pengambilan keputusan minoritas (yang lebih pandai yang unggul)
  4. Pengambilan keputusan mayoritas (melalui pemungutan suara)
  5. Pengambilan keputusan dengan consensus
  6. Pengambilan keputusan dengan suara bulat

 

C.    Metode Pemecahan Masalah

Masalah adalah perbedaan antara keadaan nyata sekarang dengan keadaan yang dikehendaki. Dalam manajemen diperlukan proses pemecahan masalah secara sistematis. Hal ini perlu untuk mengatasi kesulitan pada waktu membuat keputusan, misalnya menghadapi situasi yang tidak diduga (pada keputusan yang tidak terprogram atau tidak rutin).

Elemen-elemen dari proses pemecahan masalah:

  • Masalah
  • Desired state (keadaan yang diharapkan)
  • Current state (keadaan saat ini)
  • Pemecah masalah/manajer
  • Adanya solusi alternatif dalam memecahkan masalah
  • Solusi.

Hal lain yang harus diketahui dalam pemecahan masalah adalah, harus mengetahui perbedaan antara masalah dengan gejala. Pertama, gejala dihasilkan oleh masalah. Kedua, masalah menyebabkan gejala. Ketiga, ketika masalah dikoreksi maka gejala akan berhenti, bukan sebaliknya.

Masalah mempunyai beberapa struktur

  1. Masalah Terstruktur. Adalah masalah yang terdiri dari elemen-elemen dan hubungan antar elemen yang semuanya dipengaruhi oleh pemecah masalah. Pemecah masalah tersebut adalah komputer. Karena komputer dapat memecahkan masalah tanpa perlu melibatkan manajer.
  2. Masalah Tidak Terstruktur. Adalah masalah yang berisi elemen-elemen atau hubungan antar elemen yang tidak dipahami oleh pemecah masalah. Pemecahan masalah dilakukan oleh manajer. Karena manajer harus melakukan sebagian besar tugas memecahkan masalah.
  3. Masalah Semi Terstruktur. Adalah masalah yang berisi sebagian elemen atau hubungan yang dimengerti oleh pemecah masalah. Pemecahan masalah dilakukan oleh manajer dan komputer, yang harus bisa bekerja sama memecahkan masalah.

Proses pemacahan masalah menurut John Dewey, Profesor di Colombia University pada tahun 1970, mengidentifikasi seri penilaian pemecahan masalah:

  1. Mengenali kontroversi (masalah)
  2. Menimbang klaim alternatif.
  3. Membentuk penilaian (solusi).

Secara umum, pemecahan masalah dalam manajemen menggunakan tahap pemecahan masalah sebagai berikut:

  1. Menyelidiki Situasi

Suatu penyelidikan yang diteliti perlu dilakukan berdasarkan tiga aspek, yaitu aspek penentuan masalah, pengenalan tujuan dan penentuan diagnosis.

  1. Mengembangkan Alternative

Sebelum mengambil keputusan, pemecahan masalah memerlukan penemuan berbagai alternative yang kreatif dan imajinatif.

  1. Mengevaluasi berbagai alternative dan menetapkan pilihan yang terbaik

Setelah mengembangkan seperangkat alternative, manajer harus mengevaluasinya untuk melihat keefektifan setiap alternative melalui dua kriteria, yaitu seberapa realistis alternative itu dipandang dari sumber daya organisasi yang dimiliki dan seberapa baik alternative itu akan membantu memecahkan masalah.

  1. Melaksanakan keputusan dan Menetapkan tindak lanjut

Dalam memecahkan masalah yang menyangkut masalah teknis, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh :

  1. Menggunakan inferensi, yaitu menarik simpulan dari beberapa bukti untuk mencari arti atau penafsiran, yang merupakan suatu cara untuk menghasilkan data dan informasi baru dari data yang ada.
  2. Menentukan hambatan, yaitu menentukan hambatan yang sesungguhnya dari perwujudan sasaran.
  3. Membuat subsasaran, dengan mencoba membagi masalah menjadi beberapa bagian masalah yang lebih sederhana agar dapat dipecahkan secara sendiri-sendiri.
  4. Mencari kunci melalui proses yan logis, seperti menarik simpulan dari bukti, pengertian dan penghayatan.
  5. Mengatur data untuk mengatur data dan keterkaitannya.
  6. Memulai dari sasaran dan menggunakan konsep sebab akibat dari sasaran kepada data yang ada.

Dalam pemecahan masalah yang menyangkut manusia, seringkali terdapat sisi yang terlupakan, yaitu “perasaan”. Perasaan dapat menimbulkan hambatan mental yang menyebabkan proses pemecahan masalah terganggu. Hambatan mental merupakan perasaan frustasi yang dapat menghentikan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah, antara lain:

  1. Aku (ego), yaitu yang menyangkut harga diri seseorang.
  2. Kecemasan
  3. Semantik, yaitu mempunyai makna ganda.
  4. Ritual, yaitu peraturan, kebiasaan, atau prosedur yang harus dilalui.

Untuk menanggulangi hambatan mental dapat dilakukan dengan cara-cara:

  1. Curah pendapat
  2. Menggunakan suatu analogi
  3. Menggunakan imajinasi untuk membentuk kreasi baru
  4. Persepsi
  5. Dengan komunikasi secara berkelompok.

BAB III

Penutup

A.    Kesimpulan

Dalam suatu pendekatan sistem ada beberapa hal yang berhubungan. Salah satunya adalah pemecahan masalah. Sebelum membahas pemecahan masalah, kita harus mengetahui apa itu masalah. Masalah adalah suatu kondisi yang memiliki potensi untuk menimbulkan kerugian atau menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Jadi sebuah masalah tidak harus berkaitan dengan sesuatu yang merugikan. Kemudian pengertian pemecahan masalah adalah tindakan memberi respon terhadap masalah untuk menekan akibat buruknya atau memanfaatkan peluang.

Dalam memecahkan suatu masalah harus ada yang namanya pengambilan keputusan. Keputusan adalah pemilihan strategi atau tindakan. Maka pengertian pengambilan keputusan adalah tindakan memilih strategi atau aksi yang diyakini manajer akan memberikan solusi terbaik atas masalah tersebut. Jadi kunci pemecahan masalah adalah mengidentifikasi berbagai alternatif dari keputusan.

 

 B.     Saran

Sebagai perawat harus memahami suatu penyakit dari sudut medik maupun keperawatan adalah hal yang mutlak sebelum berhadapan dengan berbagai macam kasus. Oleh sebab itu baik sekali bila perawat menumbuhkan minat baca untuk menambah wawasan. Perawat juga harus mampu menemukan masalah-masalah yang sungguh-sungguh terjadi pada klien untuk menegakkan suatu diagnosa keperawatan yang memerlukan penanganan segera.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Admosudirjo, P., 1970. Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan. Seri Pustaka Ilmu Administrasi, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1994. Pedoman Penerapan Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Depkes, Jakarta.

Gilles Dee Ann, 1996. Manajemen Keperawatan. FKUI, Jakarta.

Lembaga Administrasi Negara, Modul PKT: Perilaku Komunikasi Manajerial. LAN, Jakarta.

Mantra, 1986. Dasar-dasar Komunikasi. Pusat Penyuluhan Kesehatan Departememen Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Ali. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta, Widya Medika, 2004.

Rr-Pujiastuti, SE. Model DELIKAN Meningkatkan Kemampuan Prinsip Etika Sebagai Dasar

Pengambilan Keputusan Klinik Pada Perawat Keperawatan dan Kebidanan Poltekes Semarang. Semarang, Poltekes, 2005.

Baharudin. Etika Individual (Pola Dasar Filsafat Moral). Cetakan I, Jakarta, Rineka Cipta, 2000.
Ismani. Etika Keperawatan. Jakarta, Widya Medika, 2001.

Kusnanto. Pengantar Profesi & Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta,
EGC, 2004.

Priharjo. Pengantar Etika Keperawatan. Yogyakarat, Kanisius, 1995.

Potter, PA. Buku Ajar Fundamental : Konsep, Proses dan Praktik. Alih Bahasa,     Yasmin Asih, Edisi 4, Jakarta, EGC, 2005.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: